Sejarah Masuknya Agama Islam di Indonesia

Sejarah Masuknya Agama Islam di Indonesia - Hallo sahabat Suka Suka Saya, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Sejarah Masuknya Agama Islam di Indonesia, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Kerajaan Islam indonesia, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Sejarah Masuknya Agama Islam di Indonesia
link : Sejarah Masuknya Agama Islam di Indonesia

Baca juga


Sejarah Masuknya Agama Islam di Indonesia

Pada tulisan kali ini akan di bahas mengenai sejarah masuknya agama Islam di indonesia, mulai dari sumber-sumber pendukung awal masuknya agama Islam, saluran yang di jadikan cara untuk perkembangan agama islam serta teori-teori yang di gunakan oleh para sejarawan sebagai pegangan dalam menentukan sejarah masuknya agama Islam di Indonesia.

Proses Masuknya Agama Islam

Keberhasilan proses Islamisasi di Indonesia sebagai agama pendatang memaksa Islam untuk mendapatkan simbol-simbol kultural yang selaras dengan kemampuan penangkapan dan pemahaman masyarakat yang akan dimasukinya. Langkah ini merupakan salah satu sifat dari agama Islam yang plural yang dimiliki semenjak awal kelahirannya.

Sejarah Masuknya Agama Islam di Indonesia
Sejarah masuknya Islam di indonesia

Kedatangan agama Islam di berbagai daerah Indonesia tidaklah bersamaan. Demikian pula kerajaan-kerajaan dan daerah-daerah yang didatanginya mempunyai situasi politik dan sosial budaya yang berbeda. Sementara itu, sumber-sumber pendukung masuknya Islam di Indonesia di antaranya adalah:

1. Berita dari Arab

Berita ini bersumber dari para pedagang Arab yang melakukan aktivitas perdagangan orang orang Melayu. Pedagang Arab diyakini telah datang ke Nusantara sejak masa Kerajaan Sriwijaya yang kurang lebih pada abad ke-7 M. Kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan yang menguasai jalur pelayaran perdagangan di wilayah Nusantara bagian barat, termasuk Selat Malaka pada waktu itu. Kerajaan Sriwijaya di Asia Tenggara dalam upayanya memperluas kekuasaannya ke Semenanjung Malaka sampai Kedah dapat dihubungkan dengan bukti-bukti prasasti 775, berita-berita Cina dan Arab abad ke-8 sampai ke-10 M. Hal ini erat hubungannya dengan usaha penguasaan Selat Malaka yang merupakan kunci bagi pelayaran dan perdagangan internasional.

Pendapat ini dikemukakan oleh Crawfurd, q, Neiman, de Hollander, Syeh Muhammad Naquib Al-Attas dalam bukunya yang berjudul Islam dalam Sejarah Kebudayaan Melayu dan mayoritas tokoh-tokoh Islam di Indonesia, seperti halnya Hamka dan Abdullah bin Nuh. Bahkan Hamka dengan keras menuduh bahwa teori yang mengatakan bahwa Islam datang dari India adalah sebagai sebuah bentuk propaganda, bahwa Islam yang datang ke Asia Tenggara itu tidak murni.

2. Berita dari Eropa

Berita dari Eropa ini berasal dari Marcopolo tahun 1292 M. Marcopolo adalah orang Eropa yang pertama kali menginjakkan kakinya di Indonesia (Nusantara waktu itu), ketika ia kembali dari Cina menuju Eropa melalui jalur laut. Pada saat itu, Marcopolo mendapat tugas dari Kaisar Cina untuk mengantarkan putrinya yang dipersembahkan kepada Kaisar Romawi. Dalam perjalanannya itu, Marcopolo singgah di Sumatra bagian utara. Di daerah ini, ia menemukan adanya kerajaan Islam, yaitu kerajaan Samudera dengan ibukotanya Pasai. Di antara sejarawan yang menganut teori ini adalah C. Snouch Hurgronye, W.F. Stutterheim, dan Bernard H.M. Vlekku.

3. Berita dari India

Berita ini menyebutkan bahwa para pedagang India dari Gujarat mempunyai peranan penting dalam penyebaran agama dan kebudayaan Islam di Indonesia. Karena di samping mereka datang untuk berdagang, mereka juga aktif mengajarkan agama dan kebudayaan Islam kepada setiap masyarakat yang dijumpainya, terutama kepada masyarakat yang terletak di daerah pesisir pantai. Teori ini lahir selepas tahun 1883 M, dibawa oleh C. Snouch Hurgronye. Pendukung teori ini, di antaranya adalah Dr. Gonda, Van Ronkel, Marrison, R.A. Kern, dan C.A.O. Van Nieuwinhuize.

4. Berita dari Cina

Berita dari Cina ini bersumber dari catatan dari Ma Huan. la adalah seorang penulis yang mengikuti perjalanan Laksamana Cheng-Ho. Ma Huan dalam tulisannya menyatakan bahwa sejak kira-kira-kira tahun 1400 telah ada saudagar-saudagar Islam yang bertempat  tinggal di pantai utara Pulai Jawa. Begitu juga dengan T.W. Arnol yang menyatakan para pedagang Arab yang menyebarkan agama Islam di Nusantara, saat itu mereka mendominasi perdagangan barat-timur sejak abad-abad awal Hijriah atau abad ke-7 dan ke-8 M. Dalam sumber-sumber Cina yang lain disebutkan bahwa pada abad ke-7 M seorang pedagang Arab menjadi pemimpin sebuah permukiman Arab-Muslim di pesisir pantai Sumatra yang disebut dengan Ta’shih.

5. Sumber dalam Negeri

Terdapat sumber-sumber berasal dari dalam negeri yang menerangkan tentang berkembangnya pengaruh Islam di Nusantara. Keterangan tersebut berdasarkan pada penemuan sebuah batu bersurat di Leran, kabupaten Gresik. Batu bersurat tersebut dituliskan dengan menggunakan huruf dan bahasa Arab. Walaupun sebagian tulisannya telah rusak, tetapi dari batu tersebut dapat menceritakan tentang meninggalnya seorang perempuan yang bernama Fatimah binti Maimun, yang berangka tahun 1028. Sumber lain yaitu makam Sultan Malik Al-Saleh di Sumatra Utara yang meninggal pada bulan Ramadan tahun 676 H atau tahun 1297 M. sementara itu, makam Syekh Maulana Malik Ibrahim di Gresik yang wafat tahun 1419 M juga menjadi bukti bahwa masuknya Islam telah terjadi di masa itu.

Kedatangan Islam ke wilayah Nusantara dan penyebarannya kepada golongan bangsawan dan rakyat umumnya, dilakukan secara damai.
Sejarah Masuknya Agama Islam di Indonesia
Peta penyebaran agama islam

Saluran-saluran Islamisasi yang berkembang 

ada enam saluran diantaranya, yaitu:

1. Saluran Perdagangan

Dari berbagai jalan Islamisasi di Nusantara pada taraf permulaannya, banyak yang sepakat bahwa Islam datang dan berkembang melalui perdagangan. Hal ini sesuai dengan kondisi akan adanya kesibukan lalu lintas perdagangan abad ke-7 sampai abad ke-16, yang saat itu terjadi perdagangan antara negeri-negeri di bagian barat, tenggara, dan timur benua Asia. Di lokasi-lokasi tersebut, pedagang-pedagang Muslim baik dari Arab, Persia, maupun India turut serta mengambil bagiannya di Nusantara.

Proses Islamisasi melalui perdagangan ini sangat menguntungkan. Hal tersebut dikarenakan jalinan di antara masyarakat Melayu dan pedagang Muslim terjalin dengan tidak adanya suatu paksaan. Proses Islamisasi melalui saluran perdagangan tersebut dipercepat lagi dengan situasi dan kondisi politik dari beberapa kerajaan yang adipati-adipati pesisir berusaha melepaskan diri dari kekuasaan pusat kerajaan yang sedang mengalami kekacauan dan perpecahan.

Secara umum, proses Islamisasi yang dilakukan oleh para pedagang melalui perdagangan mungkin dapat digambarkan sebagai berikut: Mula-mula mereka berdatangan di tempat-tempat pusat perdagangan dan kemudian di antaranya ada yang tinggal, baik untuk sementara maupun untuk menetap. Lambat laun tempat tinggal mereka berkembang menjadi perkampungan-perkampungan. Perkampungan golongan padangan Muslim dari negeri-negeri asing itu disebut dengan pekojan.

2. Saluran Pernikahan

Pernikahan adalah salah satu dari jalan proses terjadinya islamisasi yang paling mudah. Hal itu dikarenakan dalam ikatan pernikahan akan terjadi ikatan lahir batin, tempat mencari kedamaian di antara dua individu yang berbeda jenis. Kedua individu, (suami dan istri) akan membentuk sebuah keluarga yang posisinya adalah bagian dari inti masyarakat. Dalam hal ini berarti pernikahan pedagang/ saudagar Muslim dan wanita pribumi akan membentuk masyarakat Muslim. Melalui pernikahan inilah akan terlahir seorang Muslim. Dari sudut ekonomi, para pedagang Muslim memiliki status sosial yang lebih baik dari pada kebanyakan pribumi, sehingga penduduk pribumi, terutama putri-putri bangsawan, tertarik untuk menjadi istri saudagar-saudagar dari pedagang Muslim, dengan tujuan meningkatkan nilai harkat dan martabat keluarga dalam masyarakat.

Sebelum wanita pribumi menikah dengan para pedagang Muslim, mereka harus diislamkan terlebih dahulu. Setelah mereka mempunyai keturunan, maka anak mereka pun akan menjadi Muslim seperti ayahnya hingga akhirnya akan membentuk generasi-generasi Muslim selanjutnya dan lingkungan mereka semakin luas. Dengan semakin banyaknya keluarga Muslim yang tercipta, maka akhirnya timbul kampung-kampung dengan mayoritas berpenduduk Muslim, yang meluas menjadi daerah-daerah dan kerajaan-kerajaan Muslim.

3. Saluran Tasawuf

Tasawuf merupakan salah satu jalan yang penting dalam proses Islamisasi. Tasawuf termasuk kategori yang berfungsi dan membentuk kehidupan sosial bangsa Indonesia. Perkembangan Tasawuf dapat dilihat dari peninggalan bukti-bukti yang jelas pada tulisan-tulisan antara abad ke-13 dan ke-18. Hal itu berkaitan langsung dengan penyebaran Islam di Indonesia. Dalam praktiknya, para ahli tasawuf hidup dalam kesederhanaan, mereka selalu berusaha menghayati kehidupan masyarakatnya dan hidup bersama di tengah-tengah masyarakatnya. Para ahli tasawuf biasanya diyakini memiliki keahlian untuk menyembuhkan penyakit dan lain-lain.

Jalur tasawuf merupakan proses Islamisasi dengan mengajarkan teosofi dengan mengakomodasi nilai-nilai budaya, bahkan ajaran agama yang ada ke dalam ajaran Islam, dengan tentu saja terlebih dahulu dimodifikasi dengan nilai-nilai Islam sehingga mudah dimengerti dan diterima. Di antara ahli-ahli tasawuf yang memberikan ajaran yang mengandung persamaan dengan alam pikiran Indonesia pra-Islam itu adalah Hamzah Fansuri di Aceh, Syeh Lemah Abang, dan Sunan Panggung di Jawa. Bahkan ajaran tasawuf dikaitkan dengan ajaran mistik. Walaupun demikian, ajaran tasawuf seperti ini masih berkembang di abad ke-19 bahkan di abad ke-20 ini.

4. Saluran Pendidikan

Para ulama, dan guru agama berperan besar dalam proses Islamisasi. Mereka menyebarkan agama Islam melalui jalur pendidikan, yaitu dengan mendirikan surau-surau atau pondok-pondok pesantren yang merupakan tempat pengajaran agama Islam bagi para santri. Pada umumnya, di pondok pesantren ini diajar oleh guru-guru agama, kiai-kiai, atau ulama-ulama. Di tempat tersebut, para santri belajar ilmu-ilmu agama dari berbagai kitab. Setelah keluar dari suatu pesantren tersebut, mereka akan kembali ke masing-masing kampung atau desanya untuk menjadi tokoh agama atau menjadi ulama yang mendirikan dan menyelenggarakan pesantren lagi. Semakin terkenal ulama yang mengajarkan tersebut, maka semakin terkenal pesantrennya, dan pengaruhnya akan mencapai radius yang lebih jauh lagi.

Di pesantren-pesantren ini, para santri diajarkan berbagai materi kajian yang menggunakan referensi kitab kuning. Kitab kuning adalah sebutan untuk buku atau kitab tentang ajaran-ajaran Islam atau tata bahasa Arab yang dipelajari di pondok pesantren yang ditulis atau dikarang oleh para ulama pada abad pertengahan dalam huruf Arab. Disebut kitab kuning karena biasanya dicetak dengan kertas berwarna kuning yang dibawa dari Timur Tengah.

5. Saluran Kesenian

Proses Islamisasi juga dilakukan melalui seni, seperti seni bangunan, seni pahat atau ukir, seni tari, seni musik, dan seni sastra. Pada seni bangunan, tampak arsitektur Islami, misalnya pada Masjid Kuno Demak, Sendang Duwur Agung Kasepuhan di Cirebon, Masjid Agung Banten, Masjid Baiturrahman di Aceh, masjid di Ternate, dan masjid lainnya di Nusantara. Contoh lain dalam proses Islamisasi melalui seni adalah lewat pertunjukan wayang yang digemari oleh masyarakat. Melalui cerita-cerita wayang itu disisipkan ajaran agama Islam. Seni gamelan juga dapat mengundang masyarakat untuk datang melihat pertunjukan tersebut. Selanjutnya, pertunjukan seni tersebut disisipi dakwah keagamaan Islam saat masyarakat telah berkumpul.

6. Saluran Politik

Pengaruh kekuasaan raja kepada rakyat sangat besar dalam proses Islamisasi. Ketika seorang raja memeluk agama Islam, maka dengan otomatis rakyat juga akan mengikuti jejak rajanya. Pada saat itu rakyat memiliki kepatuhan yang sangat tinggi kepada rajanya. Raja dianggap sebagai panutan, bahkan menjadi teladan bagi rakyatnya. Seperti yang terjadi di Sulawesi Selatan dan Maluku, kebanyakan rakyatnya masuk Islam setelah rajanya memeluk agama Islam terlebih dahulu. Dengan bukti dan teori ini, maka dapat dikatakan bahwa pengaruh politik raja benar-benar sangat membantu tersebarnya Islam di daerah tersebut.

Pengaruh kedatangan agama Islam ke Nusantara mendatangkan kecerdasan dan kebudayaan bangsa. Agama Islam pada gilirannya mengangkat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang berbudaya, baik secara lahiriah maupun batiniah. Kebudayaan lahiriah tampak pada benda-benda budaya Islam seperti bangunan masjid-masjid dan surat yang tersebar luas di seluruh Indonesia. Mimbar-mimbar masjid serta ukiran-ukiran berupa hiasan pada mimbar, kaligrafi yang sangat disenangi kaum Muslimin, serta busana yang dikenal sebagai busana muslim juga merupakan kebudayaan lahiriah yang lahir karena pengaruh agama Islam.

Sejarah Masuknya Agama Islam di Indonesia
Gambar ilustrasi kedatangan bangsa arab

Masuknya agama Islam ke Nusantara tidaklah bersamaan dengan berdirinya kerajaan Islam di Nusantara ini. Tidak pernah terjadi dalam sejarah kedatangan agama Islam langsung mendirikan kerajaan Islam. Antara datangnya agama Islam dengan berdirinya sebuah kerajaan Islam melintasi waktu yang cukup lama. Sementara itu, sebelum agama Islam masuk, telah berdiri kerajaan yang mendapat pengaruh agama Hindu dan Buddha. Karena itulah tentunya agama baru yang masuk melalui proses yang lama baru dapat diterima oleh masyarakat sebagai agama.

Abad 7-8 M adalah zaman keemasan Dinasti Umayyah kemudian Dinasti Abbasiyah dan pada masa itu pula pedagang-pedagang Muslim yang terdiri dari orang-orang Arab, India, dan Gujarat melakukan kegiatan perniagaan ke daerah Timur Jauh dan Asia Tenggara. Jika diperhatikan, abad itu adalah masa Sriwijaya mengembangkan kekuasaannya. Ketika itu, Selat Malaka merupakan daerah pengawasan Sriwijaya, tetapi sudah dilalui oleh pedagang-pedagang Muslim yang melalui jalur pelayaran tersebut.

Berdasarkan berita Cina dari Dinasti Tang, disebutkan bahwa masa itu sudah ada pedagang Muslim, baik yang bermukim di Kanfu (Canton) maupun di daerah Sumatra sendiri. Perdagangan yang meningkat pada masa itu dimungkinkan pula oleh kegiatan kerajaan Islam di bawah Dinasti Umayyah di bagian barat serta Kerajaan Cina di bagian timur yang telah meramaikan jalur perdagangan lewat Asia Tenggara di bawah Sriwijaya.

Penguasaan Selat Malaka oleh Sriwijaya sangat penting karena merupakan kunci bagi pelayaran dan perdagangan internasional masa itu. Kedatangan pedagang-pedagang Muslim tidak terasa akibatnya bagi kerajaan di Asia Tenggara dan Timur Jauh. Akan tetapi, dua abad kemudian, yaitu abad ke 9, telah terjadi pemberontakan oleh petani Cina yang dalam pemberontakan tersebut masyarakat Muslim di sana telah turut serta dan banyak di antaranya yang terbunuh. Sebagian penduduk Muslim yang selamat melarikan diri dan menetap di Kedah. Kaisar Cina yang diberontak itu adalah Hi Tsung (878-879) dari Dinasti Tang.

gambar ilustrasi kegiatan perdangangan

Kaum Muslimin yang menetap itu kemudian melakukan kegiatan politik dan ini berakibat terjadinya pertentangan antara Sriwijaya dengan negeri Cina, karena Kedah berada di bawah perlindungan Sriwijaya.

Kondisi Sriwijaya pada abad ke-13 sudah mulai menurun dan perdagangannya sudah lemah. Hal itu merupakan situasi yang menguntungkan bagi pedagang Muslim. Pedagang-pedagang Muslim di beberapa daerah memperoleh keuntungan politik, yang dalam hal itu mereka merupakan pendukung politik berdirinya kerajaan yang bercorak Islam. Kerajaan pertama yang terbentuk dengan corak Islam ini adalah kerajaan Samudra Pasai yang berdiri pada abad ke 13.

Jika pada abad ke-13 sudah ada kerajaan yang bercorak Islam di Nusantara, maka ini berarti bahwa proses hubungan kaum Muslim dengan pribumi yang bergaul dalam waktu yang lama telah menghasilkan berdirinya sebuah institusi kerajaan yang bercorak Islam. Hal ini berarti pula bahwa orang pribumi telah berhubungan dan mengenal Islam melalui kegiatan perdagangan. Pedagang-pedagang yang menetap di pelabuhan-pelabuhan mendapat simpati dari penduduk pribumi, lebih-lebih masyarakat golongan bangsawan, karena pedagang Muslim ini memegang peranan penting dalam dunia perdagangan, yang di situ kaum bangsawan dan raja-raja memiliki saham.

Hal yang mempermudah adalah karena Islam tidak mengenal adanya kasta. Seorang pemeluk agama Hindu dari kasta Sudra, yaitu kasta yang paling rendah dalam masyarakat Hindu, apabila dia masuk agama Islam, derajatnya akan sama dengan setiap pemeluk Islam lainnya. Hal ini berarti bahwa setiap Muslim mempunyai kewajiban untuk mengajak umat lain memeluk agama Islam. Berbeda dengan agama Hindu, kewajiban seperti itu hanya dimiliki kasta Brahmana, kasta tertinggi di kalangan masyarakat Hindu.

Seorang musafir Portugis, Tome Pires, yang berlayar di sebagian besar daerah Nusantara pada permulaan abad ke-16 (1512-1515), menyebutkan bahwa hampir seluruh pesisir utara Jawa dan Sumatra sudah menganut agama Islam dan sudah banyak kerajaan yang bercorak Islam, hanya beberapa daerah pedalaman yang belum menganut Islam.

Lebih mengherankan lagi ketika Kerajaan Majapahit sedang mencapai puncak kejayaannya, di jantung ibukota Majapahit telah terdapat kelompok kaum Muslimin dan hal ini terbukti dengan ditemukannya kelompok makam orang Islam yang bertuliskan angka tahun dari abad 14 dan 15 di sekitar Trowulan, Mojokerto. Kenyataan ini memperkuat dugaan bahwa di daerah pantai utara Jawa Timur, khususnya sekitar Gresik adalah daerah permukiman kaum Muslimin dan tempat kegiatan perdagangan serta sosial. Hal ini dapat dilihat dari bukti ditemukannya sebuah batu nisan berangka tahun 475 H atau 1082 M, yaitu makam Fatimah binti Maimun di Leran, Gresik.

Pertumbuhan masyarakat Muslim di pusat ibukota Kerajaan Majapahit dan di daerah-daerah pelabuhan, terutama seperti Gresik, Tuban, dan Jaratan, sangat erat hubungannya dengan tumbuhnya kekuasaan politik Samudera Pasai dan Malaka. Hubungan perdagangan yang sudah berlangsung lama dengan kerajaan dan pedagang Muslim, menyeba daerah-daerah pelabuhan itu menjadi pusat pertumbuhan masyarakat Muslim.

Pada tahap pertama hubungan antara raja-raja Majapahit dengan daerah kekuasaannya di daerah pesisir berjalan seperti biasa, tetapi setelah para adipati pesisir itu memeluk Islam dan mempunyai posisi perdagangan yang mantap dan kekuatan yang besar, barulah terasa ancaman itu datangnya dari para adipati pesisir. Pertikaian di kalangan keluarga Majapahit untuk memperebutkan kedudukan sebagai raja mempercepat proses penghancuran Majapahit. Proses kehancuran pusat pemerintahan Majapahit berkaitan dengan proses pertumbuhan kerajaan pantai yang bercorak Islam.

Proses kehancuran Majapahit menjadi sempurna setelah Demak muncul sebagai kekuatan politik dan pusat lslam di pantai utara Jawa. Sejak abad 15, Demak menjadi pusat kegiatan penyebaran Islam di tanah Jawa yang di pelopori oleh Wali Songo. Babad Banten bahkan menyebutkan bahwa ketika ada penyerangan dari Majapahit, maka di Demaklah para wali berkumpul untuk musyawarah menentukan langkah-langkah yang perlu diambil.

Dari berita Tome Pires dan berita-berita Babad setempat diketahui bahwa Demak berdiri sebagai kerajaan. Dengan Raden Patah sebagai raja, satu demi satu daerah pesisir utara Jawa mulai mengakui kekuasaan Demak. Lebih-lebih lagi ketika benteng kekuasaan Hindu di Jawa Barat dapat diduduki dengan jatuhnya Jayakarta oleh Falatehah, maka praktis hegemoni sudah tidak dapat dibendung lagi.


Namun demikian, masuknya Islam ke Nusantara memang belum diketahui secara pasti. Beberapa penelitian dan teori dilakukan untuk mengungkap sejarah tersebut, di antaranya adalah teori proses masuk dan berkembangnya agama Islam di Indonesia yang dikemukakan oleh Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya yang berjudul Menemukan Sejarah. Dia menyatakan bahwa terdapat tiga teori dalam melihat masuk dan berkembangnya Islam di Nusantara, yaitu teori Gujarat, teori Mekkah dan teori Persia.

1. Teori Gujarat

Teori ini mengungkapkan bahwa agama Islam masuk ke Indonesia pada abad 13 dan pembawanya berasal dari Gujarat (Cambay), India. Dasar dari teori ini adalah:

a. Kurangnya fakta yang menjelaskan peranan bangsa Arab dalam penyebaran Islam di Indonesia (Nusantara).

b. Hubungan dagang Indonesia dengan India telah lama melalui jalur Indonesia Cambay -Timur Tengah Eropa.

c. Adanya batu nisan Sultan Samudra Pasai yaitu Malik Al-Saleh tahun 1297 yang bercorak khas Gujarat.

Pendukung teori Gujarat adalah Snouck Hurgronye, WF Stutterheim, dan Bernard H.M.Vlekke. Para ahli yang mendukung teori Gujarat, Iebih memusatkan perhatiannya pada saat timbulnya kekuasaan politik Islam, yaitu adanya kerajaan Samudra Pasai. Hal ini juga bersumber dari keterangan Marcopolo dari Venesia (Italia) yang pernah singgah di Perlak (Perureul) tahun 1292. Dia menceritakan bahwa di Perlak sudah banyak penduduk yang memeluk Islam dan banyak pedagang Islam dari India yang menyebarkan ajaran Islam.

2. Teori Mekkah

Teori ini merupakan teori baru yang muncul sebagai sanggahan terhadap teori lama, yaitu teori Gujarat. Teori Mekkah mengungkapkan bahwa Islam masuk ke Indonesia (Nusantara) pada abad ke-7 dan pembawanya berasal dari Arab (Mesir). Dasar teori ini adalah:

a. Pada abad ke-7, tepatnya tahun 674, di pantai barat Sumatra sudah terdapat perkampungan Islam (Arab) dengan pertimbangan bahwa pedagang Arab sudah mendirikan perkampungan di Canton sejak abad ke-4. Hal ini juga sesuai dengan berita Cina.

b. Kerajaan Samudra Pasai menganut mazhab Syafi’i, hal itu sesuai karena di Mesir dan Mekkah saat itu mayoritas juga bermazhab Syafi'i. Sementara itu, Gujarat/India adalah penganut mazhab Hanafi.

c. Raja-raja Samudra Pasai menggunakan gelar ”Al-Malik”. Gelar tersebut berasal dari Mesir.

Pendukung teori Mekkah ini adalah Hamka, Van Leur, dan T.W. Arnold. Para ahli yang mendukung teori ini menyatakan bahwa abad 13 sudah berdiri kekuasaan politik Islam, jadi masuknya ke Indonesia terjadi jauh sebelumnya, yaitu abad ke-7, dan yang berperan besar terhadap proses penyebarannya adalah bangsa Arab sendiri.

3. Teori Persia

Teori ini berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia abad 13 dan pembawanya berasal dari Persia (Iran). Dasar teori ini adalah kesamaan budaya Persia dengan budaya masyarakat Islam Indonesia seperti:

a. Peringatan 10 Muharram atau Asyura atas meninggalnya Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad saw yang sangat dijunjung oleh masyarakat Syiah/lslam Iran. Di Sumatra Barat, peringatan tersebut disebut dengan upacara Tabuik/Tabut, sedangkan di pulau Jawa ditandai dengan pembuatan bubur Syuro.

b. Ada kesamaan ajaran sufi yang dianut Syaikh Siti Jenar dengan sufi dari Iran, yaitu Al-Hallaj.

c. Penggunaan istilah bahasa Iran dalam sistem mengeja hurqurab untuk tanda-tanda bunyi harakat.

d. Ditemukannya makam Maulana Malik Ibrahim tahun 1419 di Gresik.

Pendukung teori ini antara lain adalah Umar Amir Husen dan P.A. Hussein Jayadiningrat.

Dari ketiga teori yang dikemukakan oleh Ahmad Mansur Suryanegara tersebut memiliki kebenaran dan kelemahan masing-masing, tetapi dari ketiga teori tersebut juga dapat ditarik kesimpulan bahwa Islam masuk pada abad ke-7 dengan jalan damai dan mulai berkembang pada abad ke-13, yang ketika itu pemegang peranan dalam penyebaran Islam adalah bangsa Arab, Persia, dan Gujarat (India).

Dalam kitab sejarah Cina yang berjudul Chiu T’hang Shu disebutkan bahwa pada tahun 651 M atau 31 H, Cina pernah mendapat kunjungan diplomatik dari orang-orang Ta Shih (sebutan bangsa Cina untuk orang Arab). Pada masa Dinasti Umayyah, ada sebanyak 17 juta Muslim yang datang ke Cina. Sementara itu pada masa Dinasti Abbasiyah, dikirimlah 18 duta ke negeri Cina. Bahkan pada pertengahan abad ke-7 tercatat sudah berdiri beberapa perkampungan Muslim di daerah Kanfu (Canton).

Jauh sebelum para penjelajah dari Eropa punya kemampuan mengarungi dunia, terlebih dulu pelayar-pelayar dari Arab dan Timur Tengah sudah mampu melayari rute dunia dengan intensitas yang cukup padat, dan pelayaran sejauh ini adalah rute pelayaran paling panjang yang pernah ada sebelum abad 16. Hal ini didukung pula oleh catatan para peziarah Buddha-Cina menjelang abad ke-7 yang kerap kali menumpang kapal-kapal ekspedisi milik orang-orang Arab untuk pergi ke India. Selain itu, pengembara Arab yang masyhur, lbn Bathutah, mencatat perjalanannya ke beberapa wilayah Nusantara.

Munculnya Kerajaan-kerajaan Islam

Islam berkembang di Nusantara ini melalui kehadiran individu-individu Muslim dari asing dan dari penduduk pribumi sendiri yang telah memeluk Islam. Dengan usaha mereka pada masa lalu, Islam tersebar hingga menjadi agama mayor di Indonesia saat ini. Langkah penyebaran Islam mulai dilakukan secara besar-besaran ketika dakwah telah memiliki orang-orang yang khusus menyebarkan dakwah. Setelah fase itu, kerajaan-kerajaan Islam pun mulai terbentuk berikut dengan berbagai polemik yang mengitarinya sehingga dapat menjadi sebuah pembelajaran sendiri untuk para generasi selanjutnya.

Daftar tulisan yang terkait dengan kerajaan islam yang ada di indonesia

Kerajaan Perlak
Kerajaan Samudera Pasai
Kerajaan Aceh
Kerajaan Demak
Kerajaan Banten
Kerajaan Mataram Islam
Kerajaan Ternate
Kerajaan Tidore
Kerajaan Cirebon
Kerajaan Gowa Tallo
Kerajaan Bone
Kerajaan Islam Di Pontianak
Kerajaan Indrapura
Kerajaan Pajang
Kerajaan Kutai Kartanegara
Kerajaan Siak



Demikianlah Artikel Sejarah Masuknya Agama Islam di Indonesia

Sekianlah artikel Sejarah Masuknya Agama Islam di Indonesia kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Sejarah Masuknya Agama Islam di Indonesia dengan alamat link https://suksuksay.blogspot.com/2019/11/sejarah-masuknya-agama-islam-di.html

0 Response to "Sejarah Masuknya Agama Islam di Indonesia"

Posting Komentar